khatamun nabiyyin
SAYYID MUJTABA FAQIH IMANI SILATURAHMI DENGAN KETUA UMUM PBNU


JAKARTA — Sayyid Mujtaba Faqih Imani menjalin silaturahmi dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026) sore. Dalam kunjungan tersebut, Sayyid Mujtaba didampingi oleh pimpinan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Kiai Akbar Saleh, B.A.


Pertemuan ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membuka ruang dialog keilmuan, khususnya mengenai manuskrip Al-Qur’an kuno dan peran pentingnya dalam memahami sejarah perkembangan mushaf Al-Qur’an.
Dalam kesempatan tersebut, Sayyid Mujtaba Faqih Imani menyerahkan hadiah berupa manuskrip kuno Mushaf Mashhad Razavi dan Mushaf Najafi kepada Gus Kikin. Pemberian ini menjadi simbol penghormatan dan persahabatan, sekaligus memperkenalkan kekayaan khazanah manuskrip Al-Qur’an kepada lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sayyid Mujtaba turut memberikan penjelasan singkat mengenai manuskrip kuno Mushaf Mashhad Razavi. Penjelasan tersebut menarik perhatian Gus Kikin yang menunjukkan ketertarikannya terhadap kajian mushaf Al-Qur’an.
“Menarik sekali berbicara tentang mushaf,” ujar Gus Kikin.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Di sela-sela penyerahan mushaf, muncul pula candaan mengenai Al-Qur’an yang mengundang tawa para hadirin. Sayyid Mujtaba menyampaikan, “Al-Qur’an Syiah dan Sunni tidak berbeda,” sebagai ungkapan yang menekankan persamaan Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, di tengah keragaman tradisi dan mazhab.


Lebih dari sekadar kunjungan persahabatan, pertemuan tersebut juga membawa pesan penting mengenai pendidikan dan pengembangan peradaban ilmu pengetahuan. Sayyid Mujtaba menekankan bahwa silaturahmi dapat terus diperkuat melalui kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan khazanah keilmuan Islam.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh Gus Kikin dan jajaran PBNU.
Gus Kikin menyambut baik agenda keilmuan yang berfokus pada kajian manuskrip Al-Qur’an kuno. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas dialog akademik dan memperkuat kerja sama dalam pelestarian warisan intelektual Islam.
Melalui pertemuan ini, silaturahmi tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga hubungan baik antartokoh, tetapi juga sebagai jembatan untuk mempertemukan khazanah keilmuan, memperluas wawasan, dan menumbuhkan peradaban yang berlandaskan pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *