JAKARTA — Pimpinan Pesantren Khatamun Nabiyyin, Kiai Akbar Saleh, B.A., mendampingi Sayyid Mujtaba Faqih Imani bersilaturahmi ke kediaman Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI almarhum K.H. Abdurrahman Wahid. Dalam pertemuan itu, kenangan tentang Gus Dur dan ulama besar Najaf, Grand Ayatullah Sayyid Ali Sistani ikut mewarnai suasana.
Sambutan Hangat di Kediaman Ibu Sinta Nuriyah
Rombongan, termasuk Kiai Akbar Saleh, tiba di kediaman ibu Sinta Nuriyah sekitar pukul 15.00 WIB. Tuan rumah menyambut mereka dengan ramah. Setelah itu, pertemuan berlangsung akrab dan harmonis. Suasana tersebut mencerminkan semangat persahabatan, penghormatan, dan upaya mempererat tali silaturahmi.

Mushaf Najafi sebagai Hadiah Persaudaraan
Dengan didampingi Kiai Akbar Saleh, Sayyid Mujtaba menyerahkan sebuah mushaf Al-Qur'an Najafi kepada ibu Sinta Nuriyah sebagai ungkapan penghormatan dan persahabatan. Hadiah itu menjadi simbol penghargaan sekaligus pengikat persaudaraan melalui nilai keilmuan dan spiritualitas Al-Qur’an.
Mushaf Najafi punya kisah tersendiri. Para ahli dan kaligrafer Irak menulis, meneliti, merancang, dan mencetaknya secara lengkap di Irak. Kaligrafer Abdul Husain al-Rikabi menulis teksnya dengan tangan memakai khat Naskh dan mengikuti rasm Utsmani. Selain itu, ornamennya mengambil inspirasi dari arsitektur dan motif geometris Haram Imam Ali di Najaf. Percetakannya juga menerapkan teknologi modern dan menjaga kualitas kertas serta kejelasan tulisan. Grand Ayatullah Sayyid Ali al-Sistani mengesahkan mushaf ini setelah pemeriksaan ilmiah.
Al-Qur'an yang umat Islam baca sama dengan Al-Qur’an seluruh umat Islam: 114 surah, tanpa perbedaan teks, penambahan, maupun pengurangan. Dengan begitu, mushaf tersebut menunjukkan satu kitab suci dengan beragam tradisi kaligrafi dan seni mushaf.

Kenangan Gus Dur dan Grand Ayatullah Sayyid Ali Sistani
Obrolan kemudian beralih ke kenangan Gus Dur tentang Sayyid Ali Sistani. Menurut cerita yang mengemuka dalam percakapan itu, Gus Dur pernah mengisahkan bahwa dirinya kerap satu bus dengan Sayyid Ali Sistani saat berangkat menuju Madrasah Grand Ayatullah Sayyid Al-Khui di Najaf, Irak. Kisah tersebut menghubungkan kenangan, pengalaman, dan perjalanan keilmuan para tokoh, sehingga menjadi bagian paling berkesan dari pertemuan.
Kehadiran pimpinan Pesantren Khatamun Nabiyyin, Kiai Akbar Saleh, dalam kunjungan ini mendampingi Sayyid Mujtaba dari awal kunjungan hingga perbincangan tentang Gus Dur berlangsung.
Lebih dari sekadar pertemuan, silaturahmi ini menunjukkan pentingnya menjaga persahabatan lintas latar belakang. Selain itu, pertemuan ini merawat warisan nilai kemanusiaan, keilmuan, dan spiritualitas yang menjadi jembatan persaudaraan. Dengan demikian, hubungan baik dan semangat persahabatan terus tumbuh serta menginspirasi penguatan dialog dan persaudaraan di tengah masyarakat.
