JAKARTA -- Pimpinan Pesantren Khatamun Nabiyyin, Kiai Akbar Saleh, mendampingi Sayyid Mujtaba Faqih Imani membuka dialog keilmuan di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026) sore. Dalam pertemuan itu, Sayyid Mujtaba menyerahkan salinan manuskrip Kuno Mushaf Mashhad Razavi dan Al-Qur'an Mushaf Najafi cetakan terbatas kepada Ketua Umum PBNU K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Hadiah sebagai Simbol Persahabatan
Kunjungan silaturahmi itu sekaligus membuka ruang diskusi tentang manuskrip Al-Qur'an kuno dan perannya dalam memahami sejarah mushaf. Selain itu, hadiah tersebut menjadi simbol penghormatan dan persahabatan. Dengan demikian, kekayaan khazanah manuskrip Al-Qur'an makin dikenal di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Setelah penyerahan, Sayyid Mujtaba memaparkan keistimewaan Mushaf Mashhad Razavi. Penjelasan itu menarik perhatian Gus Kikin, yang tampak antusias.
"Menarik sekali berbicara tentang mushaf," kata Gus Kikin. Sementara itu, suasana pertemuan berlangsung hangat dan akrab.

Mengenal Mushaf Mashhad Razavi
Mushaf Mashhad Razavi, yang dalam kajian internasional bernama Codex Mashhad, berada di perpustakaan Astan Quds Razavi, Mashhad, Iran. Naskah ini terdiri atas dua manuskrip bernomor 18 dan 4116. Manuskrip pertama memuat Al-Qur’an dari awal hingga akhir Surah Al-Kahf, sedangkan manuskrip kedua memuat bagian tengah Surah Thaha hingga akhir Al-Qur’an.
Aksara Hijazi dan Usia Naskah
Naskah ini memakai aksara Hijazi pada perkamen berukuran besar, sekitar 50 x 35 sentimeter. Selain itu, para peneliti menaksir naskah ini berasal dari abad pertama Hijriah. Naskah tersebut juga memuat lebih dari 95 persen teks Al-Qur’an dalam 252 lembar. Kemudian, pemiliknya mewakafkan naskah itu kepada makam Imam Ali al-Ridha pada akhir abad kelima Hijriah, dan naskah itu berada di sana sejak saat itu.
Mushaf Najaf Al-Asyraf: satu Al-Qur'an, beragam tradisi
Berbeda dengan manuskrip kuno itu, Mushaf Najafi yang Sayyid Mujtaba bawa mewakili tradisi lain. Para ahli dan kaligrafer Irak menulis, meneliti, merancang, dan mencetaknya secara lengkap di Irak. Kaligrafer Abdul Husain al-Rikabi, misalnya, menulis teksnya dengan tangan memakai khat Naskh dan mengikuti rasm Utsmani, dengan ketelitian pada tanda baca, harakat, dan tanda waqaf.
Di samping itu, ornamennya mengambil inspirasi dari arsitektur dan motif geometris Haram Imam Ali di Najaf. Percetakannya juga menerapkan teknologi modern dan menjaga kualitas kertas serta kejelasan tulisan. Setelah pemeriksaan ilmiah, Grand Ayatullah Sayyid Ali al-Sistani mengesahkan mushaf ini.
Meskipun tradisinya beragam, Al-Qur'an yang umat Islam baca adalah sama dengan Al-Qur’an seluruh umat Islam: 114 surah, tanpa perbedaan teks, penambahan, maupun pengurangan. Karena itu, dua mushaf tersebut menunjukkan satu kitab suci dengan beragam tradisi kaligrafi dan seni mushaf.
Tawaran kerja sama
Pertemuan ini tidak berhenti pada keramahan. Sayyid Mujtaba mengajak PBNU memperkuat silaturahmi lewat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan khazanah keilmuan Islam. Ia juga menghargai sambutan hangat Gus Kikin dan jajaran PBNU.
Gus Kikin menyambut baik agenda keilmuan yang berfokus pada kajian manuskrip Al-Qur'an kuno. Pertemuan ini membuka peluang memperluas dialog akademik dan memperkuat kerja sama pelestarian warisan intelektual Islam.
