JAKARTA — Ada yang berbeda dari dinamika kajian Islam di perguruan tinggi belakangan ini. Alih-alih hanya berfokus pada hafalan dan tilawah, diskursus studi Al-Qur'an di lingkungan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) kini naik kelas ke ranah sains dan filologi. Hal ini terbukti lewat kesuksesan seminar internasional bertajuk “Ancient Qur’anic Manuscripts in the History of the Qur’an: Learning from the Mashhad Ravazi Manuscript”, yang diinisiasi oleh Khatamun Nabiyyin bersama Cinta Kasih Fatimah di Aula Auditorium PTIQ.
Diinisiasi langsung oleh Khatamun Nabiyyin dan Cinta Kasih Fatimah, forum intelektual ini menghadirkan tokoh penting dunia di bidang kodikologi, Dr. Morteza Karimi-Nia. Kehadirannya seolah membuka mata para akademisi muda bahwa Al-Qur'an tidak turun dalam ruang hampa, melainkan memiliki rekam jejak historis, fisik, dan saintifik yang sangat kaya untuk diteliti.
Pembahasan utama yang digulirkan dalam forum ini adalah bagaimana memadukan ilmu-ilmu keislaman klasik dengan sains modern. Melalui pembedahan Codex Mashhad naskah perkamen berusia lebih dari 14 abad yang memuat 90 persen teks Al-Qur’an Dr. Morteza membeberkan bagaimana uji laboratorium seperti radiokarbon, analisis rasm, hingga paleografi mampu membuktikan otentisitas teks secara ilmiah. Pendekatan lintas disiplin ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa studi teks suci tertutup dari kritik sejarah.
Bagi kalangan dosen PTIQ kehadiran seminar ini menjadi angin segar. Antusiasme yang meluap-luap terlihat dari rentetan pertanyaan kritis yang diajarkan, mulai dari dinamika variasi qiraat hingga cara merawat warisan naskah kuno nusantara agar tidak lekang dimakan zaman.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan replika Codex Mashhad kepada para inisiator Khatamun Nabiyyin dan Cinta Kasih Fatimah, dan pihak kampus. Hadiah bersejarah ini bukan sekadar pajangan, melainkan simbol estafet peradaban.
Melalui langkah strategis ini, Khatamun Nabiyyin dan Cinta Kasih Fatimah tidak sekadar menggelar acara akademik biasa. Lebih dari itu, keduanya sedang menanamkan fondasi kuat agar generasi muda Islam Indonesia berani terjun ke gelanggang riset naskah kuno, merawat tradisi intelektual, dan membaca lembaran-lembaran sejarah Islam dengan cara yang jauh lebih autentik.
