JAKARTA — Lonceng dimulainya babak akhir perjalanan mahasantri Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin akhirnya berbunyi. Hari pertama Ujian Akhir Madrasah Aliyah resmi dimulai dengan suasana penuh ketenangan, keseriusan, dan kehangatan khas kehidupan pesantren (03/08/2026).
Rangkaian agenda hari pertama diawali dengan upacara pembukaan secara resmi pada pagi hari, lalu dilanjutkan dengan ujian praktik fikih sebuah disiplin ilmu yang menjadi fondasi utama dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari para mahasantri.
Sejak pagi, para santri akhir sudah berbaris rapi di halaman pesantren dengan seragam putih bersih. Raut wajah penuh keseriusan terlihat jelas, bersanding dengan ketenangan yang terbangun dari kebiasaan ibadah harian mereka.
Acara pembukaan dihadiri langsung oleh pengasuh pesantren, kepala madrasah, serta jajaran dewan guru. Dalam amanatnya, pimpinan pesantren menegaskan bahwa ujian akhir bukan sekadar formalitas untuk mengejar selembar ijazah, melainkan ajang murni untuk mengukur pemahaman dan ketulusan niat selama menuntut ilmu.
"Jangan sampai nilai angka mengalahkan nilai kejujuran. Ujian di pesantren ini diadakan bukan untuk menyulitkan, melainkan untuk melatih ketenangan mental dan kesiapan kalian sebelum terjun ke masyarakat. Awali semuanya dengan Bismillah dan niat yang lurus," pesan Kiyai Akbar Saleh. B.A,
Baca Juga : Arbain Walk 2026: Arah Bangsa Indonesia Berjalan Bersama Semangat Luhur Kemerdekaan
Rangkaian pembukaan ini ditutup dengan doa bersama. Keheningan seketika menyelimuti area pesantren saat para santri dan guru menadahkan tangan, memohon kelancaran, kemudahan, serta keberkahan dari Allah SWT.
Usai pembukaan, para santri tidak langsung berhadapan dengan kertas soal tulisan, melainkan langsung diuji dalam ujian praktik fikih. Langkah ini sengaja diambil agar para santri dapat membuktikan secara langsung bahwa teori-teori hukum Islam yang selama bertahun-tahun dipelajari tidak hanya mandek di kepala, tetapi benar-benar melekat dalam tindakan.
Di bawah pengawasan ketat para penguji yang merupakan ustadz dan ustadzah senior, para santri diuji satu per satu. Beberapa materi praktik fikih yang diuji pada hari pertama meliputi:
- Tata Cara Ibadah Harian: Ketepatan gerakan, bacaan, dan rukun shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah, lengkap dengan rincian sujud sahwi dan sujud tilawah.
- Pengurusan Jenazah : Simulasi langsung tata cara memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga pemahaman rukun pemakaman secara runtut sesuai kaidah fikih.
- Bersuci (Thaharah): Peragaan wudhu, tayamum, dan pemahaman tentang tata cara menyucikan
Ujian praktik fikih ini berlangsung interaktif. Selain memperagakan gerakan, para penguji kerap memberikan pertanyaan mendadak terkait alasan hukum di balik suatu gerakan atau bacaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan santri benar-benar paham dasar hukumnya, bukan sekadar menghafal gerakan luar saja.
Atmosfer pengujian terasa begitu edukatif. Para ustadz penguji tidak hanya memberikan penilaian, tetapi juga memberikan koreksi halus dan masukan berharga jika menemukan sedikit kekeliruan kecil pada santri.
Hari pertama Ujian Akhir MA di Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin ini berjalan dengan sangat lancar dan tertib. Keseriusan santri dalam menjalani ujian praktik fikih menjadi cermin dari kesiapan mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga anggun dalam beribadah dan siap menjadi teladan bagi masyarakat di masa depan.