khatamun nabiyyin
Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IIQ Jakarta Bedah Sejarah Manuskrip Kuno Lewat Seminar Internasional Bersama Pakar Codex Mashhad

JAKARTA — Gedung Hj. Zatiah Kadir di Pesantren Takhassus IIQ Jakarta tampak ramai oleh antusiasme mahasiswa dan jajaran sivitas akademika pada Selasa (27/10/2026). Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ Jakarta) sukses menggelar seminar internasional bertema “Ancient Qur’anic Manuscripts in the History of the Qur’an: Learning from the Mashhad Ravazi Manuscript”.

Acara berkelas internasional ini menghadirkan langsung Dr. Morteza Karimi-Nia, seorang peneliti kodikologi manuskrip Al-Qur’an sekaligus editor utama di balik Codex Mashhad. Kehadirannya sukses memikat perhatian peserta dari awal pemaparan materi hingga sesi diskusi berakhir.

Dalam pemaparannya, Dr. Morteza mengajak para peserta menelusuri perjalanan panjang mushaf Al-Qur’an selama empat belas abad lamanya. Mulai dari lembaran-lembaran awal beraksara Hijazi hingga bentuk mushaf cetak modern yang akrab di tangan umat Islam saat ini. Ia menekankan bahwa mempelajari fisik naskah kuno jauh lebih luas dari sekadar melihat bentuknya; hal itu menjadi jendela penting untuk memahami sejarah penulisan, pergeseran rasm, ragam qiraat, hingga bagaimana tradisi autentisitas teks dijaga ketat melalui tulisan dan hafalan lintas generasi.

Sorotan utama dalam seminar ini tertuju pada pembahasan Codex Mashhad, sebuah naskah kuno Al-Qur’an yang tersimpan rapi di Perpustakaan Astan-e Quds, Masyhad, Iran. Terdiri dari 252 lembar perkamen, naskah ini memuat lebih dari 90 persen isi teks Al-Qur’an. Berdasarkan analisis mendalam terhadap gaya tulisan, rasm, tata letak, hingga uji laboratorium, manuskrip tersebut diestimasi berasal dari paruh kedua abad pertama Hijriah.

Dr. Morteza turut membagikan dapur pacu penelitian naskah tersebut yang memadukan perbandingan paleografi, analisis rasm, hingga uji radiokarbon pada material perkamennya. Pendekatan lintas disiplin ini membuktikan bahwa studi Al-Qur’an modern sangat membutuhkan kolaborasi antara ilmu-ilmu Al-Qur’an, sejarah, kodikologi, dan sains.

Suasana kian hidup tatkala sesi tanya jawab dibuka. Para mahasiswa saling berlomba melempar pertanyaan kritis seputar keaslian naskah, dinamika rasm dan qiraat, metode penentuan usia naskah, hingga peluang kontribusi riset manuskrip di era modern. Tingginya interaksi ini mencerminkan gairah akademik yang kuat di kalangan mahasiswa IIQ Jakarta.

Momen paling berkesan terjadi ketika Dr. Morteza secara simbolis menghadirkan dan menyerahkan replika atau mushaf Codex Mashhad kepada pihak IIQ Jakarta. Hadiah istimewa ini tidak hanya menjadi simbol jembatan keilmuan internasional, tetapi juga aset berharga untuk memperkaya wawasan akademik di lingkungan kampus.

Kegiatan prestisius ini turut dihadiri oleh Rektor IIQ Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum., yang memberikan sambutan hangat, serta Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Ulinnuha, Lc., M.A serta Pendiri Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta, Kiai Akbar Saleh, B.A. Jalannya seminar dipandu dengan apik oleh Mabda Dzikara, M.Ag., serta menghadirkan dua akademisi pengkaji manuskrip, Dr. Ahmad Hawasi, M.A., dan Dr. Istiqomah, M.A., sebagai penanggap.

Melalui perhelatan ini, IIQ Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperluas cakrawala studi Al-Qur’an tidak sebatas pada hafalan dan bacaan semata, melainkan merambah ranah riset manuskrip, rasm, ḍabṭ, dan qiraat. Harapannya, langkah ini mampu memantik semangat mahasiswa untuk tidak berhenti mengeksplorasi warisan naskah kuno, termasuk meneliti kekayaan mushaf-mushaf Nusantara yang menjadi saksi bisu sejarah Islam di tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *