JAKARTA — Suasana khidmat dan penuh antusias tampak merayap di Yuan Garden Hotel, Jakarta, pada Sabtu (24/10/2026). Ratusan akademisi, mulai dari profesor hingga doktor pakar ilmu Al-Qur'an, berkumpul dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk Seminar Internasional Mushaf Mashhad Razavi yang diinisiasi oleh Cinta Kasih Fatimah bekerja sama dengan Muassasah Aalulbait Li Ihyai Turats, serta didukung penuh oleh Pesantren Khatamun Nabiyyin melalui Khatam Institute.
Acara prestisius ini tidak hanya sekadar menjadi ruang temu akademis, tetapi juga momentum bersejarah bagi dunia kajian Islam di Indonesia. Tercatat ada sekitar 160 guru besar dan doktor dari kurang lebih 70 perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta, yang mengirimkan delegasi terbaiknya untuk mengikuti rangkaian acara ini demi mengkaji lebih dalam mengenai Mushaf Mashhad Razavi.
Seminar yang turut menggandeng Universitas PTIQ Jakarta, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), serta Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama RI ini menghadirkan sejumlah narasumber penting. Di antaranya Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. selaku Direktur PTKI Kementerian Agama RI sekaligus Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Dr. Morteza Karimi Nia selaku peneliti kodikologi manuskrip Al-Qur'an asal Iran, Moch. Menachem Ali, M.A. selaku dosen dan filolog Universitas Airlangga, serta Dr. A. Syukrie, M.Si. selaku peneliti LPMQ. Jalannya diskusi kian bernas berkat panduan moderator Muhammad Hazir Rahim, M.A., selaku Direktur Eksekutif MaWaRa Institute. Sementara itu, Menteri Agama RI yang berhalangan hadir diwakili oleh Prof. Dr. M. Darwis Hude, M.Si. selaku Direktur Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta.
Puncak acara yang paling dinanti sekaligus mengharukan adalah sesi penyerahan salinan manuskrip kuno Al-Qur'an, yaitu Mushaf Mashhad Razavi, kepada Kementerian Agama Republik Indonesia. Sayyid Mujtaba Faqih Imani, yang hadir sebagai representatif resmi dari Muassasah Aalulbait Li Ihyai Turats, menyerahkan langsung replika naskah berharga tersebut kepada Dr. H. Abdul Aziz Sidqi, M.Ag., selaku Kepala LPMQ Kemenag RI. Nantinya, salinan manuskrip ini akan disimpan dan dipamerkan sebagai koleksi eksklusif di Museum Baitul Qur'an.
Kehadiran salinan manuskrip ini tentu bukan tanpa alasan yang kuat karena Mushaf Mashhad Razavi dikenal sebagai salah satu artefak teks Al-Qur'an paling krusial yang berasal dari abad pertama Hijriah. Disimpan di Perpustakaan al-Atabah ar-Razaviyyah di Masyhad, Iran, naskah ini terbagi menjadi dua bagian bernomor 18 yang terdiri dari 123 lembar dan bernomor 4116 yang terdiri dari 129 lembar.
Yang membuat para filolog dan sejarawan terkagum-kagum adalah tingkat kelengkapannya yang sangat tinggi. Mushaf Mashhad Razavi berhasil mempertahankan sekitar 95 persen keseluruhan teks Al-Qur'an, menjadikannya mushaf beraksara Hijazi terlengkap dari abad pertama Hijriah yang pernah ditemukan dalam kondisi yang menghimpun begitu banyak karakteristik asli.
Karakteristik Ilmiah dan Keunikan Mushaf Mashhad Razavi
Dalam pemaparan para ahli di Seminar Internasional Mushaf Mashhad Razavi tersebut, terungkap pula berbagai keistimewaan ilmiah yang dimiliki oleh naskah bersejarah ini. Berbeda dari kebanyakan naskah awal Islam yang mengikuti susunan Utsmani standar, struktur susunan surah dalam Mushaf Mashhad Razavi justru merujuk pada tradisi susunan yang dinisbatkan kepada sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud. Selain itu, naskah ini ditulis menggunakan gaya khat Hijazi sebagai format tulisan khas periode awal Islam yang memberikan data paleografis sangat berharga bagi studi transmisi penulisan ayat-ayat suci.
Dari segi fisik, naskah nomor 18 memiliki ukuran asli sekitar 46×34,5 cm, sedangkan naskah 4116 berukuran sekitar 40×30 cm, meskipun ukurannya telah mengalami sedikit penyusutan akibat faktor usia dan kerusakan fisik selama berabad-abad sehingga bervariasi antara 40×29 cm hingga 39×27 cm. Setiap halamannya rata-rata memuat sekitar 22 hingga 23 baris teks.
Melalui penyelenggaraan Mushaf Mashhad Razavi Seminar Internasional ini, para akademisi berharap ruang-ruang kajian naskah kuno di Indonesia semakin bergairah. Kehadiran Mushaf Mashhad Razavi di tanah air diharapkan mampu membuka pintu riset yang lebih luas bagi para peneliti lokal untuk menggali lembaran-lembaran sejarah otentisitas teks Al-Qur'an sejak fajar Islam menyingsing.
