khatamun nabiyyin
Santri Bisa: BRIM Khatamun Nabiyyin dan Medulla Dorong Literasi Kesehatan di Pesantren

JAKARTA — Kesehatan belum selalu menjadi bagian utama dalam percakapan pendidikan di pesantren. Padahal, kehidupan santri yang berlangsung dalam lingkungan komunal membuat pengetahuan tentang kebersihan, pencegahan penyakit, gizi, kesehatan mental, hingga akses layanan medis menjadi kebutuhan penting.

Berangkat dari persoalan tersebut, Badan Riset dan Intelektual Mahasantri (BRIM) Khatamun Nabiyyin menggelar Seminar Edukasi Kesehatan Nasional bertajuk “Santri Bisa (Bersih, Sehat, Aktif)” di Auditorium Pesantren Khatamun Nabiyyin, Jakarta Timur. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Medulla Literasi Medika, dengan mengusung tema “Transformasi Kesehatan Pesantren melalui Sosialisasi, Skrining Gratis, dan Telekonsultasi Digital.”

Kegiatan tidak hanya berupa seminar. Para santri dan warga pesantren juga memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan dan skrining klinis dasar secara gratis. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan telekonsultasi serta cara menyampaikan keluhan kesehatan kepada tenaga medis secara lebih terstruktur.

Direktur Utama BRIM Khatamun Nabiyyin, Ustad Aswar Alimuddin, mengatakan literasi kesehatan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan dasar santri.

“Literasi kesehatan harus diposisikan sebagai pengetahuan mendasar bagi setiap santri, setara dengan literasi keilmuan dan agama. Menjaga kesehatan bukan sekadar berobat ketika jatuh sakit, melainkan memahami tubuh, menerapkan pola hidup bersih, melakukan pencegahan dini, serta memiliki kapasitas mengambil keputusan medis secara rasional,” kata Ust Aswar.

Menurut dia, pesantren memiliki posisi strategis untuk membangun kebiasaan hidup sehat karena pendidikan di pesantren berlangsung bukan hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan kehidupan sehari-hari.
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar kolaborasi BRIM dengan Medulla. Organisasi ini bergerak dalam edukasi medis dan literasi kesehatan digital dengan tujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai kesehatan sekaligus mengurangi hambatan pengetahuan ketika seseorang membutuhkan layanan medis.

dr. Laila Rahmah, S.Si., MBBS, M.Sc, alumnus Tehran University of Medical Sciences, Iran, sekaligus pendiri Yayasan Medulla Literasi Medika, menjelaskan bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan fasilitas medis. Pengetahuan dan keberanian untuk mengakses layanan kesehatan juga menjadi faktor penting.

Karena itu, edukasi kesehatan diarahkan agar masyarakat mampu mengenali kondisi tubuh, melakukan pencegahan, dan mengetahui kapan harus berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Dalam sesi kesehatan asrama, dr. Nur Rahmi, MBBS, alumnus Hubei University of Medicine, membahas sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan santri. Di antaranya infeksi saluran pernapasan atas, pencegahan scabies yang dapat menular melalui penggunaan fasilitas bersama, pemenuhan gizi seimbang melalui konsep “Piring Makanku”, serta pengelolaan stres dan kesehatan mental.

Selain edukasi, santri juga diperkenalkan dengan metode OLD CARTS, sebuah pendekatan untuk membantu menggali dan menyampaikan informasi mengenai keluhan kesehatan secara lebih sistematis. Materi lain mencakup persiapan informasi saat berkonsultasi, pemahaman mengenai layanan BPJS Kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat pertama, serta prosedur dasar ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Program tersebut melibatkan sejumlah dokter dengan latar belakang pendidikan medis nasional maupun internasional. Selain dr. Laila Rahmah dan dr. Nur Rahmi, tim medis terdiri atas dr. Allysa Tasya Milano, MBBS; dr. Nurul Wira Tri Pratama, MBBS; dr. Safira Salsabila, MBBS; dr. Cut Shanaz Dhiya Shafira, M.K.M; dr. Stefanie Gifta, MBBS; dan Dr. dr. Seno Lamsir, Sp. DVE, MMedSc, MMed, MBBS.
Diskusi bersama para santri dipandu oleh Ustazah Nadia Rumain sebagai moderator.
Bagi BRIM Khatamun Nabiyyin, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas cakrawala pendidikan pesantren. Pendidikan santri tidak hanya menyangkut penguasaan ilmu agama, tetapi juga kemampuan memahami persoalan kehidupan secara utuh, termasuk kesehatan diri dan lingkungan.

Kolaborasi dengan Medulla diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan sesaat. Program “Santri Bisa” diarahkan sebagai langkah awal membangun budaya literasi kesehatan di lingkungan pesantren—dari paradigma menunggu sakit lalu berobat menuju kesadaran untuk mengenali, mencegah, dan merawat kesehatan sejak dini.

Dengan paradigma tersebut, kesehatan ditempatkan bukan sekadar urusan ketika seseorang sakit, melainkan bagian dari ikhtiar membentuk manusia yang mandiri, produktif, dan mampu menjaga amanah atas tubuh serta lingkungan tempat hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *