Jakarta - Ahad pagi di pesantren sering kali tidak semeriah agenda besar. Tidak ada panggung besar, tidak ada jargon perubahan yang berlebihan. Yang ada adalah santri, buku, hafalan, dan proses belajar yang berulang.
Di Madrasah Ulya Pesantren Khatamun Nabiyyin, salah satu rutinitas itu adalah evaluasi tasrifan. Santri mengulang perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab, menguji hafalan, sekaligus melatih ketelitian.
Sekilas, tasrifan mungkin terlihat sederhana. Namun dari rutinitas kecil semacam inilah karakter belajar dibentuk: hadir, mengulang, mengingat, salah, memperbaiki, lalu mencoba kembali.
Ada satu pelajaran yang lebih besar dari sekadar perubahan bentuk kata: perubahan kualitas diri juga membutuhkan proses yang konsisten.
Sebelum Bicara Perubahan Dunia
Kita sering senang berbicara tentang perubahan besar: perubahan umat, revolusi sosial, perbaikan generasi, bahkan perubahan zaman.
Semua itu penting. Tetapi perubahan besar semestinya berangkat dari kemampuan mengelola perubahan kecil dalam diri.
Minimal, kita belajar istiqamah menunaikan Subuh dan tidak membiasakan diri kembali tidur setelahnya. Sebelum sibuk memperbaiki dunia, barangkali kita perlu belajar menaklukkan rasa kantuk sendiri.
Bukan karena bangun Subuh adalah pencapaian luar biasa, tetapi karena disiplin terhadap hal-hal mendasar merupakan latihan pertama untuk mengelola diri.
Dari sini, pendidikan pesantren menjadi menarik. Ia tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga melatih bagaimana seseorang menjalani pengetahuan itu secara disiplin.
Dari Azan ke Wazan
Ada ungkapan sederhana yang terasa relevan: dari azan, ke wazan, hingga perubahan zaman.
Azan mengingatkan kita untuk bangun dan memenuhi panggilan ibadah. Wazan dalam ilmu bahasa Arab melatih kita memahami pola dan perubahan. Sementara perubahan zaman menuntut manusia mampu membaca realitas dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip.
Ketiganya memiliki satu benang merah: respons terhadap perubahan.
Dalam tasrif, satu kata dapat berubah bentuk sesuai pola dan kedudukannya. Dalam kehidupan, manusia pun mengalami perubahan. Tetapi perubahan yang bernilai bukan sekadar berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Yang lebih penting adalah apakah perubahan itu membawa peningkatan kualitas.
Istiqamah Bukan Sekadar Mengulang
Di sinilah makna istiqamah perlu dipahami secara lebih mendalam.
Istiqamah bukan sekadar bertahan dalam keadaan yang sama secara terus-menerus. Jika seseorang hanya mengulang aktivitas tanpa ada pertumbuhan, ia bisa saja sekadar menjalankan ritual.
Istiqamah adalah konsistensi dalam proses yang membawa peningkatan kualitas diri.
Karena itu, ukuran istiqamah bukan hanya seberapa lama seseorang bertahan, tetapi juga apakah ia semakin baik dalam proses tersebut.
Dalam ibadah, apakah semakin menghadirkan kesadaran?
Dalam belajar, apakah pemahaman semakin dalam?
Dalam kehidupan sosial, apakah seseorang semakin matang, amanah, dan bermanfaat?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya konsistensinya, tetapi juga kualitas proses yang dijalani.
Naik Derajat Berarti Naik Kualitas
Al-Qur'an memberikan perspektif menarik tentang kenaikan derajat. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, Allah menyatakan bahwa Dia meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Derajat secara lahiriah sering dipahami sebagai posisi, jabatan, status, atau kelas sosial. Namun atribut-atribut tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas seseorang.
Seseorang bisa memiliki jabatan tinggi tetapi belum tentu tinggi dalam ilmu, akhlak, ibadah, integritas, dan amanah.
Karena itu, derajat yang lebih fundamental bukan sekadar seberapa tinggi posisi seseorang di mata manusia, tetapi seberapa tinggi kualitas dirinya di hadapan Allah.
Dan kualitas itu dibangun melalui proses.
Pengalaman yang banyak belum tentu membuat seseorang bertumbuh. Panjangnya perjalanan belum tentu membuat seseorang semakin matang. Yang menentukan adalah apakah pengalaman dan perjalanan tersebut benar-benar mengubah kualitas dirinya.
Pelan-Pelan, Asal Istiqamah
Maka Ahad pagi di pesantren bukan sekadar rutinitas. Evaluasi tasrifan bukan hanya soal hafalan bahasa Arab. Ia dapat menjadi latihan kecil untuk membangun karakter yang lebih besar: disiplin, ketekunan, ketelitian, kesabaran, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Pelan-pelan wae, asal istiqamah.
Sebab perubahan kualitas diri tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari bangun ketika azan Subuh, membuka kitab, mengulang tasrifan, menerima koreksi, lalu mencoba kembali.
Dari azan, ke wazan, hingga perubahan zaman—kita belajar bahwa setiap perubahan yang bermakna membutuhkan proses.
Dan pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang mengetahui lebih banyak, tetapi tentang membuatnya menjadi lebih baik.
