Nilai dan kemuliaan seseorang sejati-jatinya tidak pernah diukur dari seberapa banyak harta yang ia tumpuk atau seberapa tinggi jabatan yang ia sandang, melainkan terletak pada apa yang ia kuasai dan amalkan dengan baik. Kesadaran inilah yang terus dipupuk di Auditorium Pesantren Khatamun Nabiyyin, Jakarta, melalui agenda kajian rutin yang dibimbing langsung oleh Ustadz Akbar Saleh, B.A. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran hangat bagi para santri untuk mendalami khazanah keislaman sekaligus menemukan relevansinya dalam kehidupan modern.

Dalam prosesnya, kajian ini konsisten merawat tradisi bandongan sebuah metode keilmuan khas pesantren yang sarat makna. Melalui metode ini, sang guru membacakan kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat atau yang lazim dikenal sebagai kitab gundul. Ustadz. Akbar Saleh kemudian menerjemahkannya kata demi kata, mengurai struktur tata bahasanya baik secara nahwu dan sharaf , hingga mengupas tuntas kandungan makna serta jalan pikiran yang tersimpan di dalamnya. Di bawah bimbingan guru, para santri tidak sekadar menyerap isi teks, melainkan dilatih secara intensif untuk mampu membedah dan memahami literatur klasik Islam langsung dari sumber aslinya.

Tradisi keilmuan semacam ini merupakan wujud nyata dari upaya mengangkat derajat manusia sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Melalui pengajian yang konsisten, para santri diajak untuk membiasakan tradisi berpikir reflektif, memperkokoh fondasi akhlak, serta meyakini bahwa pencarian ilmu adalah jalan utama menuju peningkatan kualitas diri dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, tradisi bandongan adalah ruang penempaan adab dan etika dalam menuntut ilmu. Dalam khazanah Islam, keberkahan ilmu tidak bisa diperoleh secara instan, melainkan lahir dari pertemuan yang santun antara teks yang sahih, bimbingan guru yang sanadnya jelas, serta kesungguhan hati seorang murid.
Prinsip ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pencari ilmu. Ilmu yang berlimpah tanpa ditopang oleh akhlak hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan akhlak tanpa landasan ilmu akan mudah kehilangan arah. Pada akhirnya, kajian rutin ini mengajarkan sebuah hakikat mendasar: kemuliaan manusia bukan diukur dari apa yang ia miliki di dunia, melainkan dari sejauh mana kualitas ilmu, keikhlasan amal, dan ketulusan pengabdiannya kepada kebenaran.
