Ada sebuah ungkapan bijak yang sangat mendalam: "Nilai diri seseorang itu terletak pada apa yang ia kuasai dengan baik." Di era modern yang serba instan ini, menguasai sebuah disiplin ilmu secara mendalam merupakan aset yang sangat berharga. Oleh karena itu, pengelola Pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta terus memupuk nilai luhur tersebut di lingkungan santri.
Melalui agenda rutin di Auditorium pesantren, para santri aktif menyelami kembali khazanah keislaman klasik. Ust. Akbar Saleh, B.A. memandu langsung program Kajian Kitab Kuning Khatamun Nabiyyin ini. Hasilnya, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas akademis biasa, melainkan sebuah ruang refleksi untuk membumikan teks-teks suci dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Metode Bandongan? Belajar Langsung dari Sumbernya

Foto : Suasana khidmat para santri saat mengikuti kajian kitab kuning bersama Ust. Akbar Saleh, B.A.
Bagi masyarakat awam, membaca kitab gundul atau kitab berbahasa Arab tanpa harakat mungkin terdengar mustahil. Namun, para santri di pesantren ini menjadikan hal tersebut sebagai makanan sehari-hari melalui metode bandongan.
Metode Bandongan adalah tradisi luhur keilmuan pesantren. Dalam sistem ini, seorang guru atau ustaz membacakan kitab klasik, menerjemahkannya kata demi kata, membedah struktur bahasanya (nahwu dan saraf), lalu menguraikan kandungan makna serta pemikiran mendalam di dalamnya.
Melalui metode ini, para santri tidak hanya menjadi pendengar pasif. Sebaliknya, sistem belajar tersebut melatih jemaah secara berulang untuk:
- Memahami teks klasik Islam secara presisi langsung dari sumber aslinya.
- Mengasah logika bahasa melalui bedah struktur kalimat Arab.
- Menangkap esensi kontekstual dari pemikiran para ulama terdahulu.
Tentu saja, pencarian ilmu melalui Kajian Kitab Kuning Khatamun Nabiyyin ini memiliki landasan spiritual yang kuat. Allah Swt. telah berjanji dalam Al-Qur'an:
“...Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Janji mulia ini menjadi bahan bakar semangat bagi jemaah kajian di Pesantren Khatamun Nabiyyin. Akhirnya, aktivitas rutin ini menuntun para pencari ilmu untuk membangun tradisi berpikir reflektif, memperkuat komitmen akhlak, serta menjadikan ilmu sebagai sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca Juga : Wisuda Tahfidz Khatamun Nabiyyin: Gerbang Awal Perjuangan
Lebih dari Sekadar Transfer Ilmu: Tentang Adab dan Keberkahan

Foto : Suasana khidmat para santri saat mengikuti kajian kitab kuning bersama Ust. Akbar Saleh, B.A.
Satu hal penting membuat tradisi bandongan tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi digital atau AI. Faktor pembeda tersebut adalah kehadiran ruhani. Oleh karena itu, bandongan bukan sekadar transfer informasi atau pengetahuan dari otak guru ke otak murid.
Dalam khazanah Islam, keberkahan sebuah ilmu lahir dari jalinan tiga elemen penting: teks yang otentik, bimbingan langsung dari seorang guru, dan kesungguhan hati seorang murid. Di sinilah santri membentuk adab menuntut ilmu. Alhasil, para pembelajar mampu menyimak dengan takzim, menghormati proses, dan bersabar dalam menyerap ilmu.
Selanjutnya, Ust. Akbar Saleh selalu menekankan pentingnya keseimbangan dalam setiap sesi Kajian Kitab Kuning Khatamun Nabiyyin. Sebab, ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan intelektual. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu akan membuat penuntut ilmu mudah kehilangan arah dan ragu di tengah arus zaman.
Kesimpulannya, kemuliaan seorang manusia tidak pernah bergantung pada kepemilikan materi. Kemuliaan sejati selalu terletak pada kualitas ilmu yang dikuasai, amal nyata yang dilakukan, serta konsistensi dalam mengabdi pada kebenaran.
