Upaya membangun budaya literasi pesantren menghadapi tantangan baru di tengah derasnya arus informasi digital hari ini. Persoalan utama kini bukan lagi tentang keterbatasan ketersediaan teks, melainkan kemampuan santri dalam memahami dan mengolah informasi menjadi cara berpikir yang utuh. Informasi saat ini begitu melimpah, namun kedalaman nalar masyarakat justru kian memprihatinkan.
Dalam situasi pelik ini, kita tidak boleh memahami literasi sebatas keterampilan teknis membaca. Literasi sejatinya merupakan fondasi utama dalam membentuk struktur cara berpikir manusia.
Merespons tantangan tersebut, Khatam Institut menghadirkan sebuah langkah nyata di Pesantren Khatamun Nabiyyin melalui program Kelas Literasi Sabtu. Agenda pembinaan intelektual ini bertujuan untuk mengasah life skill mahasantri. Pengelola tidak hanya mengejar peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga fokus membentuk kebiasaan berpikir ilmiah secara konsisten.
Memahami Esensi Literasi Lebih dari Sekadar Membaca
Khatam Institut melaksanakan program inspiratif ini di bawah kepemimpinan Ustad Muh Agus Salim, S.Fil.I., M.A. Pada sesi kali ini, pengurus mengundang Aswar A selaku Direktur Utama BRIM (Badan Riset Mahasantri dan Intelektual Khatamun Nabiyyin) sebagai narasumber utama.
Sesi pembuka berlangsung interaktif lewat dialog tanya jawab untuk memantik kesadaran mahasantri mengenai urgensi membaca. Langkah ini sangat krusial karena upaya membangun budaya literasi pesantren wajib bermula dari pemahaman mendasar tentang orientasi literasi itu sendiri.
Narasumber menegaskan bahwa literasi memegang peran sentral dalam mendongkrak kualitas diri seseorang. Manfaatnya mulai dari memperbaiki pola pikir, mengasah berpikir kritis atau critical thinking, hingga membentengi diri dari pengaruh informasi palsu atau hoaks. Selain itu, kebiasaan ini juga mempertajam analisis informasi, membentuk kemandirian intelektual, serta memperkuat daya tahan berpikir di era digital.
Dengan demikian, literasi bukan sekadar aktivitas akademik di atas kertas. Aktivitas ini merupakan perisai intelektual nyata dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
Secara bahasa, literacy bermakna kemampuan atau keterampilan membaca. Namun dalam praktiknya, membaca membutuhkan teknik yang efektif dan kesadaran penuh akan makna teks. Realitas di lapangan menunjukkan banyak orang membaca tetapi gagal memahami isi secara utuh. Mereka mudah merasa lelah, mengantuk, atau kehilangan fokus karena belum menguasai teknik membaca yang tepat.
Oleh karena itu, literasi sejati adalah kemampuan mengolah dan menghubungkan informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat. Hasil bacaan tersebut harus relevan dengan sikap hidup serta pola pikir individu dalam kehidupan sosial.
Akar Teologis dan Tiga Ruang Utama Literasi
Aktivitas literasi dalam Islam sebenarnya memiliki akar teologis yang sangat kuat melalui wahyu pertama, yaitu surah Al-Alaq: Iqra’ (Bacalah). Perintah mulia ini tidak boleh kita maknai sebatas membaca teks tertulis. Perintah ini merupakan instruksi luas untuk membaca ilmu, membaca fenomena alam, hingga membaca kondisi diri sendiri.
Narasumber kemudian membagi ruang literasi ke dalam tiga pilar utama:
- Literasi Teks (Kutub): Kemampuan mendalam untuk membaca sumber ilmu tertulis seperti buku dan kitab-kitab klasik.
- Literasi Alam (Afaq): Kepekaan dalam membaca fenomena alam serta realitas sosial sebagai tanda kebesaran Allah.
- Literasi Diri (Anfus): Proses membaca diri melalui tafakur dan muhasabah yang mendalam, terutama pada ruang sunyi di sepertiga malam.
Baca Juga : Habit Bahasa Arab: Dari Pelajaran Kelas menjadi Lifestyle di Lingkungan Pesantren Khatamun Nabiyyin
FGD Buku: Ruang Diskusi Kritis Mahasantri
Setelah pemaparan materi selesai, panitia melanjutkan acara dengan sesi tanya jawab dan dialog kritis. Kegiatan kemudian bergerak masuk ke agenda inti berikutnya, yaitu Focus Group Discussion (FGD) buku.
Pengurus membagi mahasantri ke dalam beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5 hingga 7 orang. Setiap kelompok membedah buku yang berbeda, lalu mendiskusikan isi bacaan tersebut secara kolektif. Perwakilan kelompok kemudian mempresentasikan hasil kerja mereka, sementara kelompok lain bertugas memberikan tanggapan.
Model diskusi kelompok ini sukses menciptakan ruang dialektika yang aktif, kritis, dan kolaboratif. Lewat metode ini, sebuah gagasan tidak hanya diterima mentah-mentah, melainkan diuji dan saling dipertukarkan antardiskusan. Model interaksi aktif seperti inilah yang diharapkan mampu mengakar menjadi budaya literasi pesantren yang berkelanjutan, bukan sekadar program formalitas belaka.
Menjawab Krisis Nalar Bangsa dari Pesantren
Kehadiran Kelas Literasi Sabtu ini tentu tidak boleh lepas dari dinamika luar, terutama masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Berbagai riset nasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca kritis masyarakat masih menjadi tantangan yang sangat serius.
Dampak dari krisis nalar ini tidak bisa kita anggap sepele. Lemahnya daya kritis membuat masyarakat mudah memercayai informasi yang tidak valid. Selain itu, analisis publik terhadap isu-isu sosial dan keagamaan menjadi sangat dangkal.
Dalam jangka panjang, kondisi buruk ini dapat merusak kualitas sumber daya manusia serta menurunkan daya saing bangsa. Bahkan, krisis nalar berisiko membuat umat memahami ajaran agama secara parsial dan tidak utuh. Melalui program ini, mahasantri Khatamun Nabiyyin siap bergerak menjadi agen perubahan demi mengikis krisis tersebut.
Penulis : Aswar A. (Direktur Utama BRIM Khatamun Nabiyyin)
Editor : Imam Khamanei
